Saya bukan seorang akademisi apalagi sejarawan. Bukan guru dengan murid. Bukan pemimpin komunitas spiritual.
Saya hanya seseorang yang bertahun-tahun diam — menyerap, merasakan, dan menyaring — di tanah Bali yang lapisan spiritualnya masih hidup.
Pemahaman dalam buku ini tidak lahir dari perpustakaan. Saya lahir dari proses yang lebih panjang dan lebih sunyi dari itu — perjalanan seorang jiwa yang memilih telanjang tanpa label, tanpa komunitas, tanpa doktrin — hanya berbekal satu kompas yang tidak bergerak di dalam.
Saya banyak membaca. Kitab Tantra juga Dharma Hindu-Buddha berbagai aliran. Sastra teks Jawa, Bali, Sunda. Bukan untuk mengikuti — tapi untuk memverifikasi apa yang sudah ia rasakan.
Dan kesimpulannya selalu kembali ke satu titik yang sama:
Dharma tidak mendua.
Buku ini bukan klaim kebenaran. Bukan sistem baru yang ingin menggantikan yang lama. Bagi Saya hanyalah tutur — sebagaimana leluhur Nusantara selalu meneruskan pengetahuan — dari rasa yang dalam, ke rasa yang mau mendengar.
Moraedwindra
Tinggalkan Balasan